Rencana pemerintah untuk mengonversi penggunaan LPG ke kompor listrik mendapat dukungan, namun pelaksanaannya diminta dilakukan secara bertahap dan terukur. Langkah ini dinilai perlu agar masyarakat memiliki waktu beradaptasi, sementara pemerintah dapat memastikan kesiapan infrastruktur kelistrikan, ketersediaan perangkat, serta kemampuan daya listrik rumah tangga di berbagai daerah.

Pemerintah melalui Kementerian ESDM menilai program konversi ini penting untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG yang masih sangat tinggi dan membebani anggaran negara melalui subsidi energi. Sebagai tahap awal, kompor listrik yang disiapkan ditujukan untuk rumah tangga dengan daya listrik rendah, termasuk pelanggan di bawah 900 VA, sehingga dapat digunakan oleh masyarakat di wilayah pedesaan dan daerah yang belum memiliki kapasitas listrik besar.

Meski memiliki potensi menghemat impor dan subsidi LPG, sejumlah pihak mengingatkan bahwa keberhasilan program sangat bergantung pada kesiapan pasokan listrik, kemampuan masyarakat mengakses peralatan yang dibutuhkan, serta sosialisasi yang memadai. Karena itu, implementasi bertahap dianggap menjadi pilihan terbaik agar transisi energi rumah tangga dapat berjalan lancar tanpa menimbulkan beban baru bagi masyarakat.