Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan dan sempat menyentuh level Rp 17.600 per dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan ini dipicu oleh penguatan dolar AS, kenaikan harga minyak dunia, serta meningkatnya ketegangan geopolitik global, khususnya di Timur Tengah.
Selain faktor eksternal, pasar juga menyoroti kondisi ekonomi domestik dan kekhawatiran terhadap arus modal asing yang keluar dari Indonesia. Situasi tersebut membuat rupiah terus berada dalam tekanan dalam beberapa hari terakhir.
Bank Indonesia disebut terus melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Meski begitu, para analis menilai pergerakan rupiah masih berpotensi fluktuatif apabila harga minyak dan kondisi geopolitik global belum membaik.